Seorang santri kelana yang tak pernah punya tempat untuk singgah. Berbagai pesulukan telah ia jajaki. Tapi tetap, pena, kertas dan paru-paru di dadalah sahabat yang setia menemani di manapun ia menginjak bumi.

Belajar Gigih pada Galih

Pertengahan 2009. Saat itu ia sudah duduk di bangku kelas III Sekolah Menengah Atas. Di kala nyaris seluruh teman angkatannya tenggelam dalam euforia kelulusan dan persiapan melanjutkan pendidikan ke kampus idaman, remaja ini justru dirundung duka nestapa yang amat...

Membangun Peradaban dengan Ceker Ayam

Awal tahun 2014. Nurman Farieka Ramdhany (24) benar-benar gusar dan gundah gulana. Nurman bimbang apakah harus lanjut atau putus kuliah. Ia merasa dunia kampus sudah tak sanggup lagi memenuhi dahaganya yang masih sangat haus akan pengalaman. Bangku kuliah hanya...

Melawan dengan Penyadaran

(Warga Melintasi Ladang Menuju Tebing Hawu Cidadap/Dok. Pribadi)   Tahun 2009. Deden Syarif Hidayat (34) gundah gulana. Kampung halaman tempat ia lahir dan bertumbuh kembang tak ubahnya seperti neraka. Eksploitasi penambangan kapur yang terjadi sejak tahun 1970-an di...