Ruh Catur Dharma di Desa Wisata Budaya

(Gapura Desa Wisata Budaya/Dok. Pribadi)

Setelah menempuh medan yang cukup terjal dan berliku, akhirnya kaki ini sampai juga di desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Sebuah desa indah dengan panorama alam yang menyejukkan. Ritmis hujan yang mengguyur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya saat itu (13/12) kian menabalkan kesan betapa eksotisnya Tegalrejo.

“Maaf telah membuat Anda menunggu lama. Saya baru saja mengantarkan pegawai dinas dari Kabupaten. Sedari pagi di sini (balaidesa) diadakan kumpulan para pengrajin batik yang tersebar di sebelas pedukuhan desa Tegalrejo”, kata Sugiman (50), lurah Tegalrejo, dengan ramah.

Kami disuguhi teh hangat, beberapa bungkus “nasi kucing”, dan gorengan beraneka macam varian. Ditemani beragam jajanan khas kampung, obrolan pun melaju dengan ringan dan lancar.

“Sesuai nama, pada awalnya Tegalrejo adalah hamparan tegalan ladang. Dulu mayoritas warga di sini berprofesi sebagai petani dan pembatik alam. Seiring berjalannya waktu, kini yang berprofesi petani tinggal 50 persen. Pedagang dan buruh 25 persen. Dan 25 persen lainnya adalah pengrajin batik kain maupun kayu”, ujar Sugiman membuka perbincangan.

Desa Tegalrejo memang terbilang unik. Desa ini merupakan desa terluas di kecamatan Gedangsari. Terdiri dari sebelas pedukuhan dengan luas total sekitar 1119 Ha. Pedukuhan itu masing-masing terdiri dari dukuh Gupit, Ketelo, Ngipik, Cremo, Tengklik, Candi, Prengguk, Tegalrejo, Tanjung, Hargosari, dan Trembono.

Ketika kami ke sana, dukuh Ketelo baru saja tertimpa musibah longsor dan retakan tanah. Kendati tak memakan korban jiwa, musibah itu mengisolasi nyaris seluruh akses keluar-masuk dukuh Ketelo. Untungnya pemerintah desa Tegalrejo langsung sigap dengan mendatangkan alat berat demi meratakan kembali kontur tanah seperti semula.

“Beginilah Mas. Selain sebagai desa terluas, Tegalrejo juga merupakan desa tersulit. Tapi bagi saya ini merupakan tantangan tersendiri”, ucap Sugiman yang sudah empat tahun menjabat Kepala Desa ini.

Awalnya setelah pertanian, era kepemimpinan Sugiman hendak menjadikan buah Srikaya sebagai ciri khas produk unggulan Tegalrejo. Tetapi berhubung anomali cuaca yang kerap berimbas pada tak menentunya produksi buah, Sugiman mencoba jalur lain untuk mengenalkan desanya ke pentas luar.

Di antaranya adalah dengan menilik kembali khasanah kebudayaan yang telah diwariskan para leluhur. Baik itu budaya dalam lini kuliner, gelaran seni, kerajinan akar bambu, maupun kerajinan batik kain dan kayu. Dalam lini kuliner, disamping berbagai macam olahan makanan dari buah Srikaya, Tegalrejo juga memproduksi keripik batang (bonggol) pisang, keripik singkong, dan keripik Garut/Kairut yang lezat juga menyehatkan.

(Lurah Sugiman/Dok. Pribadi)

Di lini kerajinan batik, Sugiman kembali menggeliatkan sepuluh kelompok pembatik kain dan kayu yang dulu sempat layu. Bahkan, dalam waktu dekat Sugiman akan menambah 4 kelompok pembatik yang baru. Sembari menunggu mereka berkarya, Sugiman juga tengah mempersiapkan gerai batik yang pembangunannya sudah mencapai 90 persen. Nantinya gerai itu akan menjadi etalase karya batik seluruh warga Tegalrejo.

“Menurut sejarah, batik warna alam Tegalrejo konon merupakan batik tertua di Kabupaten Gunungkidul. Pola batik dari Bayat (Klaten) juga terinspirasi dari sini. Oleh karenanya batik warna alam Tegalrejo menjadi prioritas kami. Bahkan belum lama ini Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan hibah Rp 600 juta khusus untuk memberdayakan pembatik dan membangun infrastruktur batik Tegalrejo”, ucap Sugiman bersemangat.

Dalam bidang gelaran seni, pemerintah desa Tegalrejo memiliki Dewan Kebudayaan Desa yang khusus menangani seluruh kegiatan kesenian. Dewan Kebudayaan ini di samping memiliki program tahunan yang jelas, juga memiliki berbagai fasilitas seperti sepaket gamelan, piranti wayang, serta beberapa perangkat seni lainnya.

Lazimnya, tiap acara Rasulan (bersih desa) yang jatuh pada Jumat Legi bulan Suro (Muharam), desa yang terletak di ujung utara Kabupaten Gunungkidul ini begitu semarak. Ini karena di hari itu warga dengan gegap gempita akan saling unjuk kebolehan. Para pengrajin batik dan pengrajin akar bambu akan menggelar pameran sedari pagi. Pegiat khasanah kuliner juga tak ketinggalan untuk turut menjajakan produknya. Menjelang sore akan ada penampilan reog jathilan. Di malam hari, warga akan disuguhi pagelaran wayang yang menghentak. Semua dari dan untuk rakyat Tegalrejo.

Belakangan, Tegalrejo mulai mengembangkan sayap. Desa ini tak hanya ingin berhenti pada pengembangan khasanah kuliner, kerajinan batik kain dan kayu, kerajinan akar bambu, maupun gelaran kesenian. Tapi lebih dari itu adalah pengembangan wisata alam. Yang menjadi andalan adalah Curug Tegalrejo dan Green Village Gedangsari.

Curug Tegalrejo adalah wisata air terjun yang begitu menawan. Kendati hempasan airnya tidak terlalu tinggi, panorama alam yang ditawarkan curug yang terletak di dukuh Tegalrejo ini sangat instagramable. Airnya masih sangat jernih. Pemandangan di kanan kirinya begitu hijau dan asri. Tiket masuknya juga murah meriah. Cukup mengeluarkan Rp 5000 saja untuk tiga orang yang ingin menikmati sensasi kesegarannya.

Yang lebih baru tentu Green Village Gedangsari. Secara geografis wisata alam Green Village berada di dukuh Guyangan, desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari. Tetapi wahana flying fox sepanjang 625 meter yang terdapat di dalamnya mengitari desa Mertelu, Watugajah, dan berakhir di Tegalrejo. Oleh sebab itu pengelolaan Green Village juga diampu oleh tiga desa itu.

(Plang Green Village Gedangsari/Dok. Pribadi)

Untuk liburan akhir tahun ini, Green Village Gedangsari merupakan salah satu referensi wisata yang cukup favorit. Ini dikarenakan di samping panorama alamnya begitu ektsrim dan menakjubkan, untuk masuk ke dalamnya juga tidak ada tarif resmi yang diberlakukan. Kecuali untuk menjajal flying fox, pengunjung harus merogoh kocek Rp 100 ribu perorang.

Para Pembatik Sepuh

Trembono adalah satu pedukuhan di desa Tegalrejo dengan jumlah pembatik paling banyak. Nyaris 85 persen warga pedukuhan ini berprofesi sebagai pembatik kain maupun kayu. Salah satu yang bisa disebut di sini adalah pasangan Subandiyanto (53) dan istrinya Yulianti (45).

Awalnya, Subandiyanto merupakan buruh kayu di Kabupaten Bantul DI Yogyakarta. Sejak 2006 ia banting setir memutuskan untuk menekuni batik warna alam asal tanah leluhur istrinya, Yulianti, yang berasal dari dukuh Trembono, desa Tegalrejo. 

(Subandiyanto dan Yulianti/Dok. Pribadi)

Subandiyanto pertama kali belajar segala hal-ihwal tentang batik warna alam Tegalrejo langsung kepada istrinya. Untuk lebih memperkaya pengetahuan, belakangan ayah satu putera ini juga menempa keahlian batiknya di Balai Batik Yogyakarta selama satu minggu pada tahun 2006.

Dari Subandiyanto kami mengenal motif Sekaring Gedangsari dan Pring Sedapur yang khas Tegalrejo. Sekaring Gedangsari adalah motif yang terinspirasi dari melimpahnya tanaman yang tumbuh di Gedangsari seperti pisang dan srikaya. Sedangkan Pring Sedapur adalah motif yang berangkat dari rumpun bambu yang banyak dijumpai di Tegalrejo. Subandiyanto juga membeberkan bahwa primadona motif batik tulis khas Tegalrejo (Ratuning Gedangsari) adalah pisang, srikaya, dan bambu.

Di rumahnya di dukuh Trembono kami menjumpai banyak sekali karya batik Subandiyanto baik pada kain maupun kayu. Untuk kayu, lazimnya berbentuk kotak perhiasan, kotak tissue, wadah buah, dan berbagai macam bentuk cinderamata seperti kalung, gelang, dan gantungan kunci yang seluruhnya merupakan karya batik tulis.

“Kalau proses pewarnaannya sintetis (kimia) biasanya warnanya tajam-tajam. Kalau yang alami itu warnanya kalem-kalem. Khusus yang kayu tidak bisa dicap kimiawi. Harus dipola menggunakan canting secara manual. Jadi, motif, pewarnaan, dan kualitas-lah yang membedakan batik tulis Tegalrejo dengan batik lainnya”, Subandiyanto menjelaskan.

(KUB Griya Batik Tegalrejo/Dok. Pribadi)

Seiring berjalannya waktu, produk batik warna alam karya Subandiyanto mulai dilirik banyak orang. Bahkan pada tahun 2013, melalui orang dekatnya presiden Jokowi yang saat itu masih menjabat Gubernur DKI Jakarta memesan batik kain warna alam Tegalrejo pada Subandiyanto. Dari situlah nama Subandiyanto mulai berkibar di pentas perbatikan nasional.

Berkali-kali ia diundang untuk mengisi pelatihan batik warna alam khas Tegalrejo di Yogyakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Subandiyanto juga terlibat dalam banyak sekali pameran, mulai dalam hingga luar negeri. Dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, hingga Belanda.

Sejak 2007, karya batik kayunya secara berkala diekspor ke Kanada, Korea, dan Jepang. Untuk batik tulis kain sementara masih untuk segmentasi pasar dalam negeri. “Alhamdulillah, omset kami sekarang untuk dalam negeri saja sudah mencapai Rp 70 juta perbulan”, ucap Subandiyanto ketika ditemui di kediamannya (13/12).

Subandiyanto juga sudah kenyang dengan penghargaan. Di kediamannya yang berbentuk joglo, piala dan piagam penghargaan berderet panjang. Di antaranya adalah piagam Juara I Lomba Desain Motif Batik Khas Gunungkidul yang disponsori Bank BPD DIY pada tahun 2011.

(Subandiyanto dengan Batik dan Penghargaan/Dok. Pribadi)

Dari yang awalnya hanya buruh di pabrik kayu, saat ini Subandiyanto sudah memiliki 33 karyawan di kelompok batiknya yang bernama kelompok Batik Cendana. Bahkan berkat ketekunan dan prestasinya, Subandiyanto kini dipercaya menjadi ketua kelompok usaha bersama (KUB) Griya Batik yang membawahi 10 kelompok batik di desa Tegalrejo.

“Ini semua sebenarnya karena jasa istri saya. Walau istri tak lulus SD dan tak bisa baca tulis, tapi mengenai desain pola dan komposisi warna, ia merupakan maestro. Desain pola batik kelompok kami rata-rata bikinan istriku, Mas”, ujar Subandiyanto menyanjung istrinya.

Sebaliknya, Sugiman justru memuji Subandiyanto. “Pak Subandiyanto ini adalah satu di antara 24 pembatik Tegalrejo yang sudah mendapat sertifikasi dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) provinsi DIY”, kata lurah keenam desa Tegalrejo menambahkan.

Regenerasi Budaya Batik

(SMKN 2 Gedangsari Tata Busana yang dibangun Astra melalui YPA-MDR/Dok. Pribadi)

“Saya yakin, regenerasi pembatik di Tegalrejo takkan pernah putus. Sebab ada  Astra yang senantiasa setia menemani dan membimbing anak-anak kami untuk mengenal khasanah budaya leluhurnya seperti batik”, ucap Subandiyanto yakin.

Tak bisa dipungkiri, nama PT Astra Internasional Tbk memang begitu familiar di kampung ini. Penyebabnya tak lain karena perusahaan yang didirikan William Soeryadjaya ini sejak 2007 sudah intens membantu pengembangan sumber daya manusia di Tegalrejo. Melalui Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Astra menggelontorkan tak kurang dari Rp 39 miliar untuk menciptakan sumber daya manusia yang tangguh di Gunungkidul melalui program Astra untuk Indonesia Cerdas.

Penyaluran bantuan itu lazimnya diberikan dalam bentuk pembangunan fisik, pembinaan, pelatihan, bantuan donasi, dan sarana prasarana pendidikan. Dalam lini pembangunan fisik, yang paling kentara adalah pembangunan gedung SMKN 2 Gedangsari jurusan Tata Busana. Bangunan sekolah yang diinisiasi YPA-MDR ini berdiri di atas area seluas 3.078 m2 dengan bangunan dua lantai seluas 2.697 m2 dan menghabiskan biaya hingga 14,9 miliar.  

Di dalamnya terdiri ruang kantor, ruang kelas, ruang laboratorium komputer dan bahasa, perpustakaan, ruang unit produksi, teaching factory, ruang peragaan dan pameran, ruang pengembangan usaha, mushalla, dan beranda batik. Bangunan sekolah ini diresmikan langsung oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dan disaksikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Bupati Gunungkidul Badingah, dan Direktur PT Astra Internasional Tbk Djoko Pranoto pada 5 Maret 2015.

(Prasasti Peresmian/Dok. Pribadi)

Dibangunnya gedung SMKN 2 ini mulanya berangkat dari fakta betapa jauhnya letak SMKN 1 Gedangsari yang berjarak tempuh sekira 10 km. Situasi ini diperparah dengan ketiadaan jasa angkutan umum lantaran medan dari desa Tegalrejo menuju kecamatan Gedangsari begitu terjal dan berliku.

Ketika akhirnya SMKN 2 Gedangsari dibangun di desa Tegalrejo (2007), pihak sekolah mengalami kendala lanjutan yang juga menyulitkan. Gedung utama SMKN 2 yang kecil tak sanggup menampung kapasitas peserta didik yang membeludak. Di sinilah YPA-MDR mengambil peran dengan membangun gedung SMKN 2 Jurusan Tata Busana yang terletak di dukuh Prengguk, desa Tegalrejo. Pembangunan itu dimulai pada tanggal 4 Maret 2014.

Dari segi pembinaan, selain SMKN 2 Gedangsari, YPA-MDR juga membimbing 6 SD dan 1 SMPN yang kesemuanya berada di desa Tegalrejo. Secara rinci masing-masing sekolah itu adalah SDN Candi, SDN Tengklik, SDN Tegalrejo, SDN Prengguk I, SDN Prengguk II, SDN Gupit, dan SMPN 2 Gedangsari.
(SMPN 2 Gedangsari Binaan YPA-MDR/Dok. Pribadi)

Melalui delapan sekolah dari berbagai jenjang inilah, sejak 2007 YPA-MDR menempa generasi muda Tegalrejo dalam mengenal khasanah kebudayaannya. Lewat pelatihan batik secara intens sejak usia dini, penyediaan fasilitas laboratorium zat pewarna alam yang bisa diakses siapa saja, pembangunan gedung sekolah yang sangat representatif, YPA-MDR tentu berperan besar dalam melestarikan budaya batik Tegalrejo hingga akhirnya sanggup menggerakkan potensi ekonomi lokal.

“Kami sangat berterimakasih pada Astra. Karena berkat Astra-lah, anak-anak kami diajarkan bagaimana cara membuat pola, mewarnai, bahkan mengidentifikasi sebuah tumbuhan memiliki kandungan zat pewarna apa melalui laboratoriumnya. Astra-lah yang memiliki peran besar terhadap pelestarian dan pengembangan batik Tegalrejo hingga masih eksis sampai detik ini”, ucap Sugiman terenyuh.

Sugiman memang tidak berlebihan. Bertandang ke sekolah-sekolah itu kita akan dengan mudah mendapati siswa-siswi yang tengah sibuk membuat pola, mewarnai, menjahit, mendesain, dan berjibaku dengan laboratorium zat pewarna alam.

(Para Siswa Tengah Fokus Membatik/Sumber Foto: SMKN 2 Gedangsari)

Di SMKN 2 Gedangsari jurusan Tata Busana misalnya. Sejak kelas X siswa-siswi dikenalkan pada sejarah, filosofi, maupun teknik pembuatan batik Gedangsari. Dari mulai batik cap, batik tulis, atau kombinasi keduanya. Untuk pola lazimnya mereka memakai motif alam seperti pola daun pisang, srikaya, daun jati, dan mangga. Para siswa-siswi itu juga dibina untuk menjadikan tanaman di sekitar sebagai sumber pewarnaan alami karya batiknya.

Melalui pembinaan YPA-MDR, siswa-siswi dikenalkan dengan berbagai aneka tanaman yang mengandung Zat Pewarna Alam. Contohnya seperti daun dan kulit kayu jati, kulit manggis, kulit mahoni, daun indigofera, daun mangga, daun putrimalu, daun jambu, jalawe dan banyak lagi. Senyawa yang tercipta dari semua pewarna alami itu mampu menghasilkan bianglala warna yang unik pada selembar batik alami nan adiluhung.

Setelah mengenali pola dan warna, siswa-siswi di sekolah kejuruan itu diwajibkan membuat satu karya batik tiap semesternya. Ini merupakan kewajiban minimum. Jika ada siswa-siswi yang membuat karya lebih dari satu juga tentunya sangat dianjurkan. Kewajiban ini berlaku mulai dari kelas X hingga XII.

“Sampai sekarang saya sudah membuat lima karya batik dan alhamdulillah sudah ada yang terjual”, ucap Ndari Arsitasari (17) dengan riang. Siswi kelas XII BB2 asal dukuh Tanjung desa Tegalrejo itu bangga dengan sekolahnya karena sejak kehadiran SMKN 2 Gedangsari Tata Busana nama Tegalrejo kian masyhur hingga keluar daerah.

(Prahesti, Ndari, dan Upik Siswi SMKN 2 Tata Busana/Dok. Pribadi)

Kebanggaan itu memang bukan isapan jempol semata. Sejak hadirnya SMKN 2 Tata Busana, banyak remaja luar daerah yang berbondong-bondong melanjutkan jenjang pendidikannya di SMKN 2 Gedangsari. Sebut saja misalnya Upik Ambarwati (17) dan Prahesti Adna (17). Keduanya merupakan siswi kelas XII BB2 yang berasal dari kecamatan Bayat, kabupaten Klaten. 

Untuk lebih memotivasi, secara berkala YPA-MDR juga mengajak para siswa untuk turut berjibaku dalam ajang fashion show maupun pameran busana bergengsi. Semisal Inacraf, Jogja Fashion Week dan Jogja International Batik Biennale. Di samping untuk memotivasi, helatan seperti ini dilakukan juga sebagai media pembelajaran pada siswa-siswi untuk mempromosikan karyanya. Bahkan dalam waktu dekat ini karya siswa-siswi binaan akan diikutkan pameran di luar negeri.

“YPA-MDR berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan perekonomian kreatif dengan menjadikan Gedangsari sebagai daerah sentra industri batik. Baru-baru ini bahkan SMKN 2 Gedangsari kami kolaborasikan dengan desainer Yogyakarta Dandy T. Hidayat dan telah sukses menyelenggarakan fashion show dan peluncuran produk busana Roges Style yang siap berkompetisi di industri mode Indonesia. Ini kami lakukan dengan harapan dapat menjadi motivasi dan inspirasi para siswa binaan YPA-MDR dan generasi muda Indonesia lainnya agar dapat menciptakan berbagai karya kreatif”, terang Herawati Prasetyo, Ketua Pengurus YPA-MDR, ketika kami konfirmasi (29/12).
(Berkarya di Ruang TeFa/Sumber Foto: SMKN 2 Gedangsari)

Tidak berhenti di situ, SMKN 2 Gedangsari juga menyediakan Teaching Factory (TeFa) yang mempersilakan semua lulusan berkarya dan bekerja di dalamnya. Mereka digaji sesuai Upah Minimum Kabupaten (UMK) Gunungkidul. Jika ada karya yang terjual, di samping mendapat gaji mereka juga akan memperoleh pembagian 10 persen royalti atas setiap karya yang keluar. Ketika masih bersekolah siswa dibekali keterampilan memproduksi karya. Setelah lulus siswa diberi kesempatan untuk mandiri dengan karya.

Teaching Factory adalah gerai yang menampung karya siswa didik yang masih aktif ataupun alumni. Hasil karya mereka yang berupa batik maupun desain pakaian umum lain nantinya dijual melalui pesanan yang sudah dikondisikan oleh YPA-MDR. Kini sudah ada tiga angkatan lulusan yang masuk TeFa sejak tahun 2015”, ucap Drs. Sudaryono, Kepala SMKN 2 Gedangsari (29/12).

Tak hanya TeFa sebenarnya. “Sebab YPA-MDR juga telah menyediakan galeri yang khusus menjual produk-produk kreatif sekolah binaan dan Rumah Pintar. Lokasinya berada di PT. Astra Internasional Tbk, Gedung AMDI B, Lantai 6,  Jl. Gaya Motor No. 8, Sunter, Jakarta Utara”, susul Herawati menambahkan.

Ketika peserta didik sudah mampu terampil, kreatif dan mandiri, prestasipun akan datang menghampiri. Inilah yang terjadi beberapa waktu lalu dalam perhelatan Lomba Desain Fashion Batik Trend Internasional yang digagas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov DIY. Andri Puri Ramadhona dan Irvan Maulana berhasil membawa predikat juara II dan III untuk kategori Busana Kerja.
(Puri Ramadhona/Koleksi Public Relation YPA-MDR)

“Sekolah binaan YPA-MDR memang kerap kali meraih prestasi di tingkat provinsi. Kami harapkan ini menjadi awal yang baik untuk memotivasi siswa siswi SMKN 2 Gedangsari lainnya untuk meraih prestasi di tingkat yang lebih tinggi lagi”, ujar Herawati bahagia.
  
Di SMKN 2 Gedangsari siswa-siswi tak sekadar dituntut untuk menguasai materi-materi pelajaran belaka. Tapi lebih dari itu, bagaimana siswa-siswi sanggup melestarikan khasanah kebudayaannya sembari piawai menjadikan kekayaan lokalitas (local wisdom) sebagai bekal untuk berdaya secara ekonomi maupun sosial.
 
Eskalator Penggerak

“Yang membedakan kita dengan mereka yang tinggal di daerah adalah kesempatan. Indonesia akan maju dan berkembang bila penduduknya diberi kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang baik”, ucap pendiri YPA-MDR, alm. Michael Dharmawan Ruslim semasa hidupnya (Yakub Liman, 2017: 424).

Kesempatan. Itulah kata kunci yang menggerakkan YPA-MDR bergerilya ke daerah-daerah pra-sejahtera demi memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warga negara dalam menempuh jenjang pendidikan yang berkualitas. Sejak tahun 2006 hingga kini, YPA-MDR telah memberi asupan bantuan tak kurang dari Rp 200 miliar untuk menempa 67 sekolah negeri, 905 guru, dan 16.058 siswa.

Semuanya terdiri dari 54 SD, 9 SMP dan 4 SMK yang tersebar di sekujur Indonesia. Mulai dari Jawa Barat (Bogor), Banten (Serang), DI Yogyakarta (Gunungkidul dan Bantul), Jawa Timur (Pacitan), Sumatera (Lampung Selatan), Kalimantan Timur (Kutai Barat), dan Nusa Tenggara Timur (Kupang).

Terkait kontribusi di desa Tegalrejo, YPA-MDR menggeliatkan konsep pembinaan yang meliputi 4 pilar: akademik, karakter, kecakapan hidup dan seni budaya. Melalui keempat rumus ini PT Astra Internasional Tbk melalui YPA-MDR membentuk sekolah binaan di desa Tegalrejo dari sekolah swapraja (mandiri) menuju sekolah unggul.

Secara rinci, Herawati Prasetyo mendedahkan bahwa program bantuan yang diberikan oleh YPA-MDR kepada tiap sekolah-sekolah binaan tersebut mencakup: Pertama, peningkatan kompetensi guru dan peserta didik berupa pemberian pelatihan dan pembinaan yang meliputi empat pilar.

Yakni a) pembinaan akademis. Poin ini berbentuk pelatihan untuk guru dan Kepala Sekolah seperti manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, metode pembelajaran aktif kreatif menyenangkan [PAKEM] dan pelatihan-pelatihan lain yang menunjang peningkatan SDM guru.

Selanjutnya, b) pendidikan karakter. Sebuah pembiasaan karakter bagi warga sekolah yang dilakukan secara berkesinambungan. Adapun karakter yang dikembangkan di antaranya adalah kebersihan, kedisiplinan, respek, dan daya juang.

Setelah itu c) kecakapan hidup yang berisi pelatihan/kegiatan untuk membekali kemampuan siswa sesuai potensi daerahnya. Terakhir, d) seni budaya. Bentuknya berupa penempaan yang secara khusus diberikan agar generasi muda mencintai dan mampu melestarikan seni budaya lokal.

Kedua, sarana penunjang pendidikan seperti buku pelajaran siswa, buku pegangan guru, buku perpustakaan, perangkat Unit Kesehatan Sekolah (UKS), serta alat peraga dan media pembelajaran. Ketiga, penambahan prasarana ruangan dan renovasi gedung sekolah berikut mebel agar kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik dan berkualitas.

Keempat, khusus untuk SMKN 2 Gedangsari juga terdapat Lab Mini Zat Pewarna Alam yang bertujuan menjadi tempat pelatihan siswa dan masyarakat/UKM Batik agar dapat memproduksi zat pewarna alam secara mandiri.

(Infografi: ypamdr-astra)

Semua pembinaan itu lazim disebut sebagai konsep Sekolah Eskalator. Sebuah konsep tentang sekolah dengan pola pendampingan serta bimbingan yang berjenjang dan berkelanjutan. Tujuannya tak lain adalah untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan demi menuju kesejahteraan yang sesungguhnya.

TeFa merupakan salah satu implementasi dari konsep Sekolah Eskalator yang mana pendidikan sanggup berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. TeFa dibentuk untuk mewadahi lulusan SMKN 2 Gedangsari yang minat berwirausaha dalam industri mode batik sehingga membentuk UKM yang mandiri dan mempunyai penghasilan untuk kehidupan mereka di kemudian hari, tutur Herawati.

Tapi tentu agenda sebesar ini tak hanya bisa digerakkan oleh satu pihak semata. Karenanya, seturut Herawati, pencapaian sekolah unggul dengan konsep eskalator ini hanya bisa dicapai melalui sinergi semua stakeholder yang ada. Mulai dari Dinas Pendidikan setempat, Komite Sekolah (masyarakat), elemen sekolah, dan sebagainya.

(Infografi: ypamdr-astra)

“Saya optimis, sekolah eskalator yang dikonsepsikan YPA-MDR akan lekas terwujud dengan sempurna. Dengan demikian, maka tak perlu lagi ada warga Tegalrejo yang keluar dari desanya. Sebaliknya, para pemuda akan membangun daerahnya sendiri dengan mendirikan UKM-UKM yang berangkat dari potensi lokal. Sebab yang diberikan Astra (YPA-MDR) selama ini bukan hanya ikan dan kail, melainkan kolamnya langsung sehingga bisa mengentaskan kemiskinan di Tegalrejo dan Gedangsari secara menyeluruh”, ucap Drs. Sudaryono yakin.

Berdaya dengan Budaya

Dalam sila pertama Catur Dharma dengan jelas tertera bahwa Astra musti bermanfaat bagi bangsa dan negara (to be an asset of the nation). Landasan filosofis inilah yang membuat YPA-MDR senantiasa menjadi lembaga sosial yang berdiri di garda depan dalam mewarnai laju pendidikan anak negeri utamanya di daerah-daerah pra-sejahtera.

Tegalrejo yang di tahun 2000-an masih berupa hunian sunyi khas kampung pedalaman, kini lamat-lamat mulai bangkit dan hidup. Jika dulu banyak pemuda usia produktif yang memilih menjadi buruh ke luar daerah, kini pemuda Tegalrejo mulai bergeliat untuk berdiri di atas potensi lokal desanya sendiri. Mereka mulai mencari penghidupan dari anugerah yang melimpah ruah di desanya. Mulai dari kerajinan batik, kerajinan akar bambu, khasanah kuliner, gelaran kesenian, hingga wisata alam yang mempesona.

(Plang Rintisan Desa Wisata/Dok. Pribadi)

Melihat perkembangan sedemikian, tak heran jika sejak Agustus tahun ini PT Astra Internasional Tbk melalui YPA-MDR menggagas Tegalrejo sebagai Rintisan Desa Wisata Budaya Gedangsari. Ini tentu lantaran setiap lekuk desa Tegalrejo pada dasarnya memiliki kekayaan wisata budaya yang sebenarnya bisa menjadi motor penggerak perekonomian warga.

Peluncuran Rintisan Desa Wisata Budaya Gedangsari dihelat pada tanggal 30 Agustus 2017 secara meriah. Peluncuran ini langsung diresmikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. Turut menyaksikan pula Head of Public Relations Division PT Astra Internasional Tbk Riza Deliansyah, Ketua Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim Arietta Adrianti, Bupati Gunungkidul Hj. Badingah, Pemerintah Provinsi DIY, SKPD-SKPD terkait, Pokja Desa Wisata Budaya, dan masyarakat setempat.

Gelaran acara yang bertajuk Pesona Gedangsari ini diisi dengan berbagai acara yang unik, kreatif, dan menarik. Dari mulai pameran kerajinan warga, Fashion Show in the Forest di hutan Wanajati, hingga Membatik Lintas Generasi. Kegiatan fashion show di Wanajati baru pertama kali digagas di Gedangsari. Dalam acara itu, karya siswa-siswi SMKN 2 Gedangsari diperagakan dengan cantik di atas catwalk alam berkolaborasi dengan para desainer Indonesian Fashion Chamber (IFC).
(Peresmian Rintisan Desa Wisata Budaya/Sumber Foto: Astra)

Begitu juga dengan kegiatan Membatik Lintas Generasi yang diikuti sekira 150 peserta dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia dengan rentang umur 4 hingga 79 tahun. Saking spektakulernya kedua kegiatan ini Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sampai mengganjarnya sebagai rekor dunia.

Untuk Membatik Lintas Generasi, MURI mempersembahkan rekor pada Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR) dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dengan nomor rekor 8074. Sedangkan fashion show, MURI menganugerahkan Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR) dan Indonesian Fashion Chamber (IFC) dengan nomor rekor 8075.
(Dok. Pribadi)

Demikianlah setitik riwayat desa wisata budaya Tegalrejo kecamatan Gedangsari. Dulu banyak pihak menganggap Tegalrejo sebagai desa pra-sejahtera lantaran kondisi geografisnya yang berada di ujung utara pegunungan Gunungkidul. Kini dengan bekal potensi wisata budaya yang telah dirintis Astra, Tegalrejo siap mewakili Gedangsari untuk menjadi juru bicara khasanah batik warna alam ke pentas industri pariwisata dan budaya di Yogyakarta, Indonesia, bahkan dunia.

Di penghujung petualangan, Herawati Prasetyo secara khusus menyampaikan segurat pesan dan harapan. Begini bunyinya: “Melalui bantuan dan pembinaan yang Astra berikan semoga sanggup mendorong masyarakat, utamanya Komite Sekolah dan paguyuban, dalam mewujudkan sekolah yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. Dengan potensi unggulan seperti kerajinan batik, seni budaya, wisata alam, serta hasil buah, Tegalrejo harus mampu menjadi lokomotif terdepan dalam menjadikan Gedangsari sebagai destinasi wisata budaya. Capaian kesejahteraan seperti inilah yang menjadi cita-cita kami dari awal. Sebab yang demikian sejalan dengan ruh Catur Dharma yaitu Sejahtera Bersama Bangsa”.

Itulah ruh Catur Dharma yang bersemayam di Desa Wisata Budaya. Sebuah persembahan adiluhung dari Astra demi Indonesia jaya.


36 Responses to " Ruh Catur Dharma di Desa Wisata Budaya "

  1. Pak Sugiman nampaknya lurah yang perlu dicontoh oleh lurah-lurah lain di negeri ini, pasalnya dengan cara kepemimpinan seperti beliau ini desa yang tadinya tergolong dalam daerah pra-sejahtera, namun siapa sangka jika saat ini Desa Tegalrejo bisa menjadi desa yang siap mewakili Kecamatan Gedangsari ke pentas industri pariwisata di Yogyakarta, Indonesia, bahkan dunia. Itu merupakan buah dari kerja keras lurah beserta masyarakat Tegalrejo dengan didukung oleh Astra di belakangnya, peran Astra dalam membantu daerah-daerah yang masih dalam kategori pra-sejahtera ini tentu memiliki manfaat yang luar biasa bagi masyarakat setempat, semoga banyak daerah-daerah pra-sejahtera lainnya yang dapat dibantu oleh Astra sehingga lebih banyak lagi rakyat Indonesia yang merasakan kesejahteraan di daerahnya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Sugiman itu low profile, santai, rileks, andhap asor, santun, dan melayani. Tipikal lurah yang kini sudah mulai jarang ditemui. Saya setuju jika lurah yang satu ini mustinya jadi cermin untuk lurah-lurah lain di sekujur negeri ini.

      Astra juga demikian. Kendati sudah menjadi perusahaan besar yang telah berada di atas angin, ia tetap mau bergerilya dan membimbing desa-desa pelosok nan terisolir macam Tegalrejo Gedangsari.

      Hapus
  2. Di cirebon jg ada kampung batik namanya trusmi. Sayangnya di sini blm ada regenerasi sprti kaya di gedangsari. Kayaknya astra harus sgera ke trusmi deh. He he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khasanah kekayaan budaya yang dimiliki Cirebon sebenarnya tak kalah dengan Yogya. Mungkin benar, PR terbesarnya ada di masalah regenerasi.

      Hapus
    2. masalah yang timbul pada diri sendiri

      Hapus
    3. Betul. Ini problem klise yang terjadi di mana-mana.

      Hapus
  3. Walaupun terbilang desa tersulit, masyarakat Tegalrejo tidak pantang menyerah untuk membuat kemajuan. Itu semua terbukti dengan berkembangnya kuliner, kerajinan2, dan juga wisata alamnya yg hijau dan asri. Dan dengan di dukung oleh PT. Astra, masyarakat Desa Tegalrejo menjadi semakin semangat dalam bekerja dan menjaga kelestarian wisata budaya. Semoga dapat menjadi contoh untuk desa/daerah lainnya. Karena kemajuan desa adalah tujuan masyarakat bersama :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astra memang berhasil membangunkan desa Tegalrejo dan kecamatan Gedangsari yang sudah tertidur lama sekali. Wilayah di ujung utara Gunungkidul ini awalnya merupakan daerah pra-sejahtera lantaran letak geografisnya yang berada di perbatasan. Tapi seiring berjalannya waktu, Astra lewat medium penggalian khasanah budaya, mulai membuat Gedangsari bergeliat. UKM-UKM mulai tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Angka urbanisasi kian hari kian terminimalisir. Warga pun pada akhirnya sanggup berdaya di kampungnya sendiri.

      Hapus
  4. Setiap desa/daearah pastinya mempunyai ciri khas budaya kan kekayaan tersendiri.tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat desanya dalam mengenbangkannya.
    Semoga dengan adanya tulisan ini membuat semua daerah khususnya desa bisa termotivasi dalam mengembangkan kekayaan budaya daeranya.
    Apalagi dengan dibantu PT. Astra semoga daerah /desa cepat dalam mengenbangkan kekayaan budayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Andai kekhasan budaya itu sanggup muncul semua ke permukaan, saya yakin warga Indonesia sanggup berdaya dengan budaya.

      Hapus
  5. Inilah perubahan. Dengan tekad yang besar, membuahkan hasil yang begitu baik. Budaya batik Tegalrejo harus selalu dimumule (dilestarikan) kepada generasi muda. Ikhtiarnya yang ikhlas, membawa Desa Tegalrejo menjadi Desa yang maju dibidangnya sendiri.
    Terima kasih telah menulis ini dan saya sendiri sangat kagum oleh kegigihan Pak Sugiman. Semoga ini bisa menjadi contoh bagi yang membaca.
    Untuk penulis, Kak Anwar. Jangan pernah bosan tuk terus menggoreskan pena itu menuju perubahan. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas lurah Sugiman adalah melestarikan. Tugas warga melaksanakan. Tugas Astra adalah memberikan bantuan, pembinaan, dan pengembangan agar khasanah budaya Tegalrejo terus dinamis sesuai dengan denyut zaman.

      Terimakasih sudah mampir. Salam kenal.

      Hapus
  6. Sanagat menarik. Pa subandiyanto dengan tekadnya ingin membangaun SDM yang lebih berkualitas. SMKN 2 yang bisa mebjadi rujukan untuk kita demi membangun pendidikan yang lebih baik. Tak hanya itu dengan semangat gotong royongnnya desa ini bisa menjadi buah bibir bagi masyrakat. Semoga menjadi bahan tiruan bagi yang lainnya. Desa maju karna kita bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerjasama lintas sektoral itulah yang menjadikan Tegalrejo tegak berdiri. Sayangnya, etos demikian sudah mulai jarang ditemui di desa/kecamatan lainnya. Padahal, gotong royong adalah urat nadi dari falsafah kebangsaan kita.

      Hapus
  7. Menarik sekali artikelnya. Membuat saya ingin mampir ke sana. Takjub dengan semangat orang-orang di sana yg sudah bersusah payah dan bergotong royong untuk membangun tempat-tempat tersebut menjadi tempat yang berkualitas. Semangat terus untuk penulis, artikelnya sangat memotivasi saya sebagai pembaca untuk lebih menghargai dan bangga pada tempat-tempat wisata lokal yang gak kalah menarik untuk dikunjungi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Anak muda zaman sekarang jangan hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang sudah jadi mainstream. Anak muda harus keluar dari zona nyaman untuk menemukan mutiara-mutiara terpendam di tempat lain. Termasuk dalam lini traveling.

      Terimakasih. Dan salam kenal.

      Hapus
  8. Wah Desa Tegalrejo keren sekali, saya belum tahu ada desa seperti Desa Tegalrejo ini, rasanya jika desa saya seperti itu, saya tidak akan pergi meninggalkan desa saya, tapi saya akan membangun desa itu terus maju dan berkembang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas kita semua untuk menjadikan kampung-kampung kita menjadi tanah tumpah darah yang nyaman ditinggali. Sebab kekuatan terbesar negeri ini ada pada desa. Desa yang berdaya akan menjadi tulang punggung negara yang digdaya.

      Hapus
  9. Banyaknya pmuda yg keluar daerah adalah karena di desanya tdk ada usaha penghasilan yg layak. Kalau smua desa sprti desa tegalrejo para pemuda gak perlu keluar dr desanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas kita semua untuk menjadikan desa kita sebagai sumber penghidupan yang asri, lestari, dan berkelanjutan. Tegalrejo hanya prototype. Desa lain bisa seperti Tegalrejo bahkan melampauinya.

      Hapus
  10. Mantap.. majunya suatu desa memang berasal dari diri sendiri. Mau atau tidak untuk memajukannya. Saya salut terhadap kekompakan desa tersebut. Lurah yang luar biasa cerdas kmudian d bantu dengan sekolah yg tidak hanya mementingkan sendiri, atau menebarkan manfaat untuk masyarakat sekitar. Saya rasa sulit sekali berada di posisi lurah dalam memajukan suatu desa dan sekolah yang bisa menebar manfaat untuk masyarakat. Saya benar-benar bangga terhadap desa tersebut yaitu menjunjung tinggi arti pribumi, karena saya suka dan bangga menjadi pribumi Indonesia. Yang memiliki keaneka ragaman budaya, dan kekereatifan yg luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul. Prinsip: “apa yang sudah kau berikan untuk desamu” harus senantiasa menjadi patokan generasi muda. Dengan etos dan semangat seperti itu kita takkan terjebak jadi generasi pengeluh dan penggerutu. Sebaliknya jadi generasi aktif yang berjibaku dengan semua sektor untuk membuat kebermanfaatan yang berkelanjutan. Baik untuk diri, keluarga, maupun sekitar.

      Hapus
  11. Berangkat dari keterbatasan Desa Tegalrejo yang kurang sejahtera, kini desa tersebut mampu meluncur menjadi desa wisata budaya melalui bekal potensi alam yang dimilikinya. Ditambah lagi regenerasi pembatik di sana sudah dipersiapkan dengan baik, sehingga tak perlu hawatir budaya batiknya akan luntur. Semoga desa-desa lain pun begitu, mampu mencontoh kebangkitan Desa Tegalrejo dengan memanfaatkan sumber daya alamnya dengan baik & meningkatkan sumber daya manusianya agar lebih unggul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. “Berangkat dari yang ada”. “Berangkat dari kekayaan lokal yang ada”. “Berangkat dari tradisi leluhur yang ada.”

      Maka insya Allah sebuah destinasi akan mampu berdaya dan digdaya di atas kakinya sendiri.

      Hapus
  12. Lagi-lagi DIY selalu menyuguhkan sesuatu yang istimewa. Tegalrejo dengan segala keindahan di dalamnya, salah satunya. Saya kira, Tegalrejo mampu untuk menjadi contoh bagi daerah-daerah lain yang sangat baik memanfaatkan potensi yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju, Putri Gemma.
      Yogya memang istimewa.
      ^_^

      Hapus
  13. Andai stiap perusahaan memiliki kpedulian yg sm sprti astra pd desa2 tertinggal, psti indonesia cepat maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Membangun Indonesia paling mujarab dengan cara membangun dari pinggiran.

      Hapus
  14. Andai saja desa saya dipimpin oleh kepala desa seperti pak sugiman, rasanya desa saya akan mulai maju dan berkembang seperti tegalrejo di gunungkidul itu, tapi sayangnya hal itu baru sekedar keinginan yang saya harapkan, semoga kelak desa saya bisa dipimpin oleh orang seperti pak sugiman bahkan bisa jauh lebih keren :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak perlu menunggu Pak Sugiman lahir dan hadir di desa kita.
      Masing-masing warga sebenarnya sanggup berdaya. Dengan atau tanpa figur siapapun yang mengawalinya. Masalahnya cuma satu: mau atau tidak?

      Hapus
  15. Di Yogyakarta memang banyak desa wisata yang potensial, tapi untuk Desa di Tegalrejo ini sudah keren banget sih, apalagi kepada desanya super inspirasi, coba ke daerah arah Bantul deh mas, soalnya aku pernah ke desa wisata disana banyak yang sudah non aktif karen peran kades yang minim. Kapan2 kalau penelitian kayak gini kabar-kabar mas! Lanjutkan! Keren banget menambah wawasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, menarik itu. Nanti deh kalau ke Jokja lagi kita riset bareng ke Bantul ya?

      Oiya, selamat menempuh studi ekonomi di UGM, Stefy. Semoga ilmunya berkah dan manfaat untuk masyarakat nanti. ^_^

      Hapus
  16. Mungkin banyak desa lain yang berpotensi hanya saya berada didearah yang namanya asing ditelinga kita,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mustinya begitu. Karena Indonesia ini terdiri dari 27.000 lebih desa yang tersebar di sekujur negeri.

      Hapus
  17. Hahaha
    Mas anwar membuat saya bernostalgia ria dengan jogja. Berbicara kota gudeg ini gak pernah habis memang. Mulai dari kota jogja sampai kabupaten di sekelilingnya, kulon progo, sleman, bantul dan gunung kidul. Kalau dalam lirik lagunya SID seribu budaya itu jelas tersemat. Pokoknya nostalgia banget berbicara jogja :D hehehe.
    Menarik tulisan mas anwar ini, desa tegalrejo yang semula boleh jadi tertinggal, sekarang coba ditegakan oleh lurahnya yakni pak sugiman. Sosok yang begitu santai ia mampu sedikit demi sedikit membenahi kehidupan lingkungannya. Patut di apresiasi memang, karena berbicara pemimpin hari ini banyak yang buta atau bahkan apatis terhadap potensi SDM dan SDA lingkungannya. Maka saya kira sosok pak sugiman ini perlu di jadikan contoh sosok pemimpin yang baik.
    Kita juga patut mengapresiasi Kepada YPA MDR yang sudah mau menyokong dana untuk pembangunan sebuah sekolah yang berbasis pariwisata. Inilah yang disebut istimewah kabupaten gunung kidul yang dulu pernah disebut sebagai pembuangan para selir raja lambat laun coba berdiri tegak. Semoga saya bisa menjamah kembali tanah istimewah ini di lain kesempatan.
    DIY Do It Yourself
    DIY Daerah Istimewah Yogyakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap jengkal Jokja memang menyimpan sejuta cerita dahsyat tentang kayanya budaya Nusantara. Saya setuju dengan penggalan lirik SID. Hehehe.

      Betul. Saya teringat ucapan seseorang: mereka yang selalu berpikir dan menganggap kekayaan sebuah bangsa/daerah adalah sumber daya alamnya adalah alam pikir kolonial. Sebab kekayaan terbesar sebuah bangsa/daerah adalah manusianya. Di Tegalrejo, sumber daya manusia-lah yang pada akhirnya sanggup menggerakkan sumber daya alam hingga mampu menjadi potensi ekonomi lokal.

      Berangkat dari premis itu, kita patut mengapresiasi langkah YPA-MDR Astra di Gunungkidul selama ini. Sebab yang menjadi concern YPA-MDR adalah pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia Tegalrejo yang berkelanjutan. Bukan justru sebaliknya.

      Hapus